Hysteria, kolektif seni yang telah bertahan dua dekade di Semarang, membuktikan bahwa kreativitas, kolaborasi, dan semangat tak kenal menyerah mampu menghidupkan ekosistem seni bahkan di lahan paling tandus sekalipun.
PERJALANAN dua dekade Hysteria sebagai sebuah kolektif seni adalah contoh kongkrit kebandelan, kekeraskepalaan, kecerdikan dan sedikit keberuntungan.
Mereka sejak awal menyadari risiko yang terpampang di depan: Semarang selama ini dikenal sebagai kuburan seni, para pelakunya asyik dengan dirinya sendiri dan dukungan dari stakeholder (instansi, sponsor dan apresian) minim sekali bahkan bisa disebut tidak ada.
Lahan tandus dan segala keterbatasan tersebut ternyata tidak membuat mereka gentar. Dengan menggunakan tempat kost sebagai inkubator mereka mulai menyemai ide-ide dan gagasannya serta menyebarkannya ke lingkungan sekitar.
Salah satu keberhasilan Hysteria, menurut saya adalah berhasil merangkul melibatkan warga sekitar dan menggarap isu-isu kongkrit yang mereka alami.
Mereka melakukan pendekatan secara intens sehingga memperoleh kepercayaan dari warga yang didampinginya.
Selanjutnya dengan jaringan dan sumber daya yang ada, Hysteria bisa melakukan riset, menggelar festival di kampung mereka dengan leluasa dan mengusungnya dengan narasi baru serta membawanya ke panggung yang lebih luas.
Program-program yang mereka usung selanjutnya lahir sebagai hasil kolaborasi yang egaliter karena menempatkan warga dan kolektif seni secara setara/ egaliter guna merumuskan sebuah isu serta menggarapnya dan menyelesaikannya dalam suatu goals.
Progam-progam yang lahir dibangun dari kesadaran interdisiplin dan hasil dari percobaan-percobaan Hysteria sebagai kolektif seni dalam membangun ekosistem kolektif.
Mayoritas program mereka merupakan hasil perpaduan dari riset antropologi dan implementasi riset dalam wujud artistik.
Meskipun dalam berbagai kesempatan mereka mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan selama 20 tahun ini belum ada artinya apa-apa (Ngona-ngono tok, Yang penting capek, dll), menurut saya itu menunjukkan kerendah-hatian para personil Hysteria.
Harus diakui saat ini mereka adalah salah satu kolektif seni di Indonesia yang moncer dengan progam-progam yang layak untuk diapreasiasi dan dibahas secara khusus. Seperti divisi penerbitan, Gebyuran Bustaman, Peka Kota Institut, Nginguk Githok dan sebagainya.
Di tahun awal pembentukannya (2004) saya termasuk sering hadir di markas Hysteria di Jl. Stonen 29. Dan dua dekade kemudian, Sabtu lalu (16/11), saya merasa terhormat bisa menghadiri perayaan 20 Tahun Hysteria. Panjang umur perjuangan. []






