Zohran dan Gibran

beno siang pamungkas
Zohran dan Gibran
iLUSTRASI

Dua anak muda menapaki tangga kekuasaan dari dua dunia berbeda, Zohran Mamdani di New York dan Gibran Rakabuming di Jakarta mewakili dua wajah masa depan demokrasi

Oleh: Beno Siang Pamungkas

PEMILIHAN pemimpin adalah salah satu tonggak utama dalam proses demokrasi. Pilihan rakyat terhadap sosok yang dipercaya untuk mengelola pemerintahan mencerminkan bagaimana partisipasi politik berjalan dan bagaimana legitimasi kekuasaan terbentuk.

Dalam konteks ini, menarik untuk membandingkan dua figur muda yang baru saja mengisi posisi strategis di dua negara dengan sistem dan kultur politik berbeda: Zohran Mamdani sebagai Walikota New York yang akan dilantik 1 Januari 2026 nanti dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang berpasangan dengan Presiden Prabowo Subianto sudah memimpin negri ini selama setahun lewat beberapa hari.

Keduanya mencerminkan wajah kepemimpinan masa depan, namun melalui jalur dan cara yang sangat berbeda.

Visi kepemimpinan kedua figur ini juga mencerminkan perbedaan tajam.

Zohran Mamdani dikenal dengan program progresifnya yang menekankan pengentasan kemiskinan, pemerataan sosial, dan hak-hak komunitas minoritas di New York. Dia berusaha memperjuangkan keadilan sosial di kota yang penuh tantangan kemiskinan dan kesenjangan.

Gibran, di sisi lain, lebih dikenal hanya sebagai “ban serep” yang membawa semangat baru dari generasi muda yang diasosiasikan dengan keluarga Jokowi. Dan beban sebagai anggota dinasti politik membawa tantangan tersendiri dalam membuktikan kapasitas dan kredibilitasnya.

Dinamika politik di kota New York sangat kompleks dengan persaingan ideologis antara berbagai kelompok dan komunitas, serta tantangan urban yang besar seperti keamanan, perumahan, dan layanan publik.

Sementara di Indonesia, dinamika politik nasional juga penuh dengan kompleksitas politik identitas, peran keluarga dalam politik, dan tuntutan demokrasi yang semakin meningkat. Kedua konteks ini menguji bagaimana masing-masing pemimpin dapat merespons kebutuhan masyarakatnya secara efektif.

Legitimasi Zohran Mamdani sebagai pemimpin didukung oleh pemilihan langsung dan dukungan kuat dari komunitas yang merasa diwakili. Ini menciptakan hubungan yang kuat antara pemimpin dan konstituen yang memungkinkan pengawasan publik dan akuntabilitas.

Sebaliknya, Gibran menghadapi kritik terkait nepotisme dan dianggap menabrak aturan sehingga membawa kekhawatiran bahwa keberadaannya adalah produk politik dinasti yang bisa menggerus prinsip meritokrasi dan demokrasi yang sehat.

Tantangan bagi Mamdani adalah bagaimana mengimplementasikan program-program progresif di tengah struktur pemerintahan kota yang besar dan beragam. Bagi Gibran, tantangan utama adalah membuktikan bahwa dirinya mampu menjalankan tugas sebagai Wapres secara profesional, terlepas dari bayang-bayang keluarganya, dan membangun kepercayaan rakyat Indonesia.

Perbandingan ini juga membuka pemahaman tentang sistem politik yang berbeda: demokrasi representatif di Amerika Serikat yang mengedepankan pemilu langsung, versus sistem politik di Indonesia yang masih kerap dipengaruhi oleh politik dinasti dan sentralisasi kekuasaan.

Peran media pun sangat berbeda, dengan media di New York yang lebih bebas dan kritis, sementara di Indonesia media menghadapi tekanan yang lebih besar dari kekuatan politik dan ekonomi.

Dampak sosial dan politik yang ditimbulkan kedua pemimpin akan menjadi studi menarik bagi masa depan kepemimpinan.

Zohran Mamdani mewakili harapan perubahan progresif di tengah kota metropolitan, sedangkan Gibran diharapkan membawa nuansa baru di panggung politik nasional Indonesia. Keduanya, bagaimanapun, menghadapi ekspektasi besar dari publik dan harus membuktikan diri di tengah tekanan yang tidak ringan.

Perbandingan ini menegaskan pentingnya legitimasi yang berasal dari partisipasi rakyat dan transparansi proses politik dalam membangun kepemimpinan yang efektif dan dipercaya. Karena demokrasi menyangkut soal substansi dan kualitas hubungan antara pemimpin dan rakyatnya. Harapan terbesar adalah agar kepemimpinan masa depan, baik di New York maupun di Indonesia, dapat mengutamakan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial, dengan cara yang jujur, terbuka, dan demokratis.

Sedikit tambahan, dalam pidato kemenangannya Zohran Mamdani menyatakan bahwa ia akan menjadi walikota baik bagi orang yang memilih dirinya, memilih kandidat lain, maupun yang tidak menggunakan hak pilihnya. Selain itu ia juga mengajak seluruh warga New York agar menolak setiap ajakan yang memperdagangkan perpecahan dan kebencian yang dapat mengadu domba di tingkat akar rumput.

Zohran Mamdani mengajak seluruh warga New York untuk membuktikan bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan oleh pemerintah, dan tidak ada masalah yang terlalu kecil untuk dipedulikan. Saya mengandaikan kata “New York” suatu saat bisa diganti dengan kata “Indonesia”. []