Zonasi.id genap berusia dua tahun; ibarat balita yang sedang belajar berjalan, media ini terus merawat idealisme, menjaga keseimbangan, dan meneguhkan keberpihakan pada kaum marginal di tengah industri media yang kian suram.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
DALAM kalender manusia, dua tahun adalah sebuah keajaiban biologis. Dari sekadar mahluk yang terlelap dan bergantung sepenuhnya, seorang anak usia dua tahun kini telah berdiri, melangkah, dan mulai menatap dunia dengan rasa ingin tahu yang meledak-ledak.
Hari ini, tepat dua tahun usia Zonasi.id. Dan anehnya, ketika saya merenungi perjalanan media ini di tengah industri media (juga bidang usaha lainnya) yang kian suram dan tak pasti, yang terlintas di benak saya bukanlah metafora tentang sebuah mesin atau gedung pencakar langit, melainkan seorang balita yang sedang belajar berjalan.
Secara fisik dan motorik, anak usia dua tahun umumnya sudah mampu berjalan dengan cukup stabil, berlari kecil, menendang bola, dan menyusun balok sederhana. Ia mungkin masih berantakan saat makan menggunakan sendok, namun dorongan untuk mandiri dan mengeksplorasi lingkungan tak bisa dibendung orang tuanya.
Begitu pula Zonasi.id. Di tahun-tahun awalnya, kami sedang belajar menjaga keseimbangan di atas medan yang terjal. Kami sedang menyusun balok-balok pertama dari jurnalisme progresif.
Kami belajar menendang bola ke arah isu-isu yang selama ini terpinggirkan dan kurang mendapat porsi selayaknya seperti kerusakan lingkungan, kesejahteraan buruh, penegakan HAM, dan ketimpangan ekonomi.
Seperti balita yang masih belepotan saat makan, kami tahu perjalanan kami masih penuh dengan trial and error, namun semangat untuk berlari kecil membawa suara komunitas yang tak terwakili oleh media arus utama tak pernah padam.
Fakta yang paling memukau dari anak usia dua tahun adalah perkembangan otaknya yang telah mencapai 80% dari volume otak orang dewasa. Tentu, ini bukan berarti kecerdasannya sudah setara orang dewasa.
Kemampuan berpikir abstrak, memahami sebab-akibat yang kompleks, dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang masih sangat terbatas. Fondasi strukturalnya telah terbentuk pesat, namun penggunaannya masih terus dibangun melalui pengalaman.
Zonasi.id pun demikian. Blue print kami tentang media progresif yang mendefinisikan ulang kebebasan pers dan memperjuangkan keadilan sosial adalah fondasi yang telah kami upayakan dengan serius.
Kami tahu persis bahwa kami berada di era senjakala media idealis, di mana narasi didikte oleh oligarki dan berita viral hanyalah clickbait. Namun, kami juga sadar bahwa menerjemahkan idealisme ini ke dalam realitas industri media yang kompleks adalah proses belajar yang panjang.
Kami sedang menumbuhkan jaringan-jaringan pemikiran, belajar dari paparan dan interaksi dengan masyarakat, agar fondasi progresif ini tidak hanya menjadi teori, melainkan praktik yang hidup.
Anak usia dua tahun sedang belajar mengenali emosi. Mereka bisa merasa marah, sedih, atau frustrasi, yang sering kali meledak menjadi tantrum karena keterbatasan kosakata. Mereka mulai menyadari keberadaan orang lain, meski belum sepenuhnya paham perspektifnya.
Di industri media, ekspresi tantrum dan frustrasi itu nyata. Ada kelelahan menghadapi algoritma, ada kepedihan melihat hak masyarakat atas informasi berimbang dirampas oleh kepentingan korporasi.
Namun, di tengah frustrasi itu, Zonasi.id memilih untuk tidak menyerah pada keputusasaan. Kami belajar dari keberanian Lama Jamous, jurnalis cilik dari Gaza yang kala itu baru berusia 9 tahun (Oktober 2023) menolak membiarkan dunia buta terhadap kekejaman di tanah kelahirannya.
Kami belajar dari radio komunitas di Bolivia yang menjadi mesin revolusi bagi petani dan masyarakat adat. Kami menengok ke belakang, pada majalah bawah tanah Suara Independen yang ditakuti rezim Orde Baru.
Dari mereka, Zonasi.id belajar bahwa menjadi media alternatif di zaman yang gila ini mungkin dianggap sebagai perbuatan orang kurang waras.
Namun, balita yang sedang tumbuh tidak pernah bertanya apakah dunia ini aman; ia hanya terus melangkah. Kami menolak untuk menjadi bagian dari kegelapan.
Para ahli mengatakan ada lima faktor yang mempengaruhi pertumbuhan otak anak yaitu nutrisi yang cukup, interaksi yang hangat, tidur yang cukup, stimulasi yang sesuai usia, dan lingkungan yang aman serta penuh kasih.
Zonasi.id juga membutuhkan kelima hal ini untuk tumbuh. Nutrisi kami adalah kebenaran dan jeritan kaum marginal yang harus terus kami suarakan. Interaksi yang hangat adalah kepercayaan dari komunitas yang merasa aspirasinya terwakili oleh kami.
Stimulasi kami adalah keberanian untuk membuka mata dunia pada kenyataan yang selama ini tidak diliput. Dan lingkungan yang aman dan penuh kasih adalah solidaritas dari para pembaca, rekan sejawat, dan tim redaksi yang saling menjaga agar tetap waras di tengah gempuran media yang kehilangan hati nurani.
Pada usia dua tahun, seorang anak mulai menunjukkan keinginan untuk mandiri dan mulai berempati, misalnya dengan berpura-pura menyuapi boneka. Ini adalah awal dari kesadaran sosialnya.
Di usia kedua ini, Zonasi.id telah sampai pada kesadaran yang paling mendasar tentang esensi jurnalisme yaitu keberpihakan. Kami menuntut independensi dan integritas, namun kami menolak klaim netral yang semu di hadapan ketidakadilan.
Jika kami harus berpihak, kami akan selalu berpihak kepada mereka yang lemah, yang dilemahkan, dan yang terpinggirkan secara sistematis. Kami berpihak pada mereka yang menjadi tumbal dari manusia-manusia serakah haus darah, yang perut dan hasratnya tak pernah kenyang.
Zonasi.id tidak sekadar ingin memberitakan; kami ingin menyuapi mereka yang kelaparan akan keadilan, layaknya seorang balita yang belajar berbagi. Kami ingin jurnalisme ini memiliki dampak sosial, mendorong perubahan nyata, dan menggalang solidaritas.
Usia dua tahun adalah masa ketika fondasi telah diletakkan dengan sangat pesat, tetapi perjalanan untuk memahami dunia yang kompleks baru saja dimulai.
Zonasi.id, di usia dua tahun ini, mungkin belum memiliki kematangan untuk menyelesaikan semua persoalan rumit bangsa ini. Namun, fondasi untuk belajar, untuk berpihak, dan untuk berani telah tertanam kuat.
Terima kasih kepada seluruh tim, kontributor, pembaca dan seluruh pihak yang selama ini telah membantu kami serta menjadi mitra yang hangat bagi Zonasi.id. Mari kita terus menemani balita ini berlari, menjelajah, dan suatu hari nanti, Insya Allah, bisa memimpin perubahan.
Selamat ulang tahun yang kedua, Zonasi.id. Teruslah melangkah, dan jangan pernah berhenti berpihak. []










